Selasa, 25 Maret 2014

Jiwa ke permenungan mengenai Allah di atas kita , pertama sebagai Pengada , kemudian sebagai Sang Baik. Yang ada (pengada) adalah baik, dan permenungan mengenai Allah sebagai Pengada, kesempurnaan dari ada, membimbing ke kesadaran akan Pengada sebagai Sang Baik. Sebagai difussivum sui, dan kemudian kepada permenungan mengenai Trinitas Kudus.
Lebih jauh dari ini budi tidak dapat melewati: di seberang sana terletak kegelapan yang berkilauan dari kontemplasi dan ekstase. Namun, kehendak merupakan suatu fakultas dari satu jiwa manusia dan, meskipun berasal dari substansi jiwa, kehendak bukanlah suatu aksiden yang disting, sehingga untuk mengatakan bahwa efeksi kehendak mengatasi budi sama saja dengan mengatakan bahwa jiwa dipersatukan sedemikian erat dengan Allah oleh cinta, sehingga cahaya yang dicurahkan ke dalam jiwa membutakannya. Tinggal satu tingkat yang lebih tinggi, yang hanya diberikan hidup kekal, yaitu melihat Allah di surga.


2. St. Thomas Aquinas 1224/5 - 1247

Thomas Aquinas dilahirkan di puri Roccasecca, tidak jauh dari Napoli, pada akhir tahun 1224 atau awal 1225. Dia masuk sebuah biara Dominikan pada tahun 1244. Tetapi langkah ini tidak diterima oleh keluarganya. Jendral Dominikan membawanya ke Bologna untuk dikirimkan ke Universitas Paris. Tetapi Thomas diculik oleh saudaranya dan disekap di Aquino selama satu tahun. Tetapi akhirnya ia dapat pergi ke Paris pada musim gugur 1245. 
Aquinas mungkin berada di Paris sampai musim panas 1248, kitika ia menemani St. Albertus Agung ke Cologne, di mana Albertus akan mendirikan rumah studi untuk Ordo Dominikan. Aquinas tinggal disana sampai 1252. Selama berada di Paris dan Cologne, Aquinas selalu dekat dengan Albertus, yang menyadari kemampuan muridnya ini. Pengaruh Albertus inilah yang membawa Aquinas ke Aristotilianisme.
 Pada tahun 1252 Aquinas kembali dari Cologne ke Paris untuk belajar Kitab Suci dan Sentences dari Petrus Lombardus. Pada tahun 1256 dia menjadi Magister dan mengajar sebagai professor Dominikan sampai 1259. Kemudian dia pergi ke Itali untuk mengajar Teologi sampai 1268.
 Pada tahun 1268 Aquinas kembali ke Paris dan mengajar di sana sampai 1272, di mana dia terlibat dalam perdebatan melawan para penganut Averroisme. Pada tahun 1272 dia dikirim ke Napoli untuk mendirikan sebuah rumah studi, dan mengajar di sana sampai 1274, ketika Paus Gregorius X memanggilnya untuk pergi ke Lyons untuk ambil bagian di dalam Konsili. Tetapi dia wafat di perjalanan antara Napoli dan Roma pada tanggal 7 Maret 1274.


A. Filsafat dan Teologi

Aquinas membedakan dengan jelas antara filsafat dan teologi. Filsafat dan ilmu-ilmu lain hanyalah mengandalkan terang kodrati dari akal: filsuf mempergunakan prinsip-prinsip yang diketahui dengan akal manusia, dan berpalar menuju ke kesimpulan yang merupakan buah penalaran manusiawi. Sebaliknya, teolog, meskipun ia menggunakan akalnya, menerima prinsip-prinsip itu sebagai sesuatu yang diwahyukan.

Maka perbedaan utama antara teologi dan filsafat terletak di dalam kenyataan bahwa sementara teolog menerima prinsip - prinsipnya dari perwahyuan dan menganggap objek-objek pengetahuannya sebagai diwahyukan atau dideduksikan dari apa yang diwahyukan, filsuf mendapatkan prinsip-prinsipnya dengan akal saja dan menganggap objek-objek pengetahuannya, tidak sebagai hasil perwahyuan tetapi bisa difahami dengan cahaya kodrati akal.

Menurut Aquinas, hampir seluruhnya dari filsafat diarahkan kepada pengetahuan mengenai Allah, sekurang-kurangnya dalam pengertian bahwa sebagaian besar studi filsafat diandaikan dan disyaratkan oleh teologi kodrati, yaitu bagian dari metafisik yang membicarakan mengenai Allah.

Menurut Aquinas, secara teoritis mungkin bagi seorang filsuf untuk menciptakan suatu sistem metafisik yang benar tanpa adanya perwahyuan. Dari satu pihak, sistem macam itu secara niscaya akan menjadi tidak sempurna, tidak tepat dan tidak lengkap, karena metafisis itu terutama berurusan dengan Kebenaran sendiri, dengan Allah yang merupakan prinsip Kebenaran. Tambahan lagi, si metafisis, hanya dengan mengandalkan pada penyelidikan rasional menusiawi murni, tidak mungkin menemukan seluruh pengetahuan mengenai Kebenaran sendiri, mengenai Allah, yang mutlak bagi manusia jika ia ingin mencapai tujuan akhirnya. Sebab filsuf murni tidak dapat mengatakan sesuatu mengenai tujuan supranatural yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Karena pengetahuan mengenai hal-hal tersebut mutlak bagi keselamatan manusia, sifat tifak memadainya pengetahuan filosofis menjadi nyata.

Dari lain pihak, ketidaklengkapan dan ketidaktepatan tidak dengan dirinya berarti salah. Kebenaran bahwa Allah adalah satu tidak dicemari oleh kenyataan bahwa Trinitas Pribadi-Pribadi tidak dikatakan atau dikenal sama sekali; kebenaran yang lebih jauh melengkapi kebenaran yang pertama, tetapi kebenaran pertama tidak salah, meskipun hanya diambil sendirian

B. Prinsip-Prinsip Ciptaan

Di dalam summa Theologica, Aquinas membahas eksistensi Allah, kodrat Allah, Pribadi-Pribadi Ilahi, dan ciptaan. Demikian juga di dalam Summacontra Gentiles, Aquinas juga mulai dengan Eksistensi Allah. Tetapi bukti-bukti mengenai adanya Allah mengandaikan beberapa konsep dan prinsip dasar. Maka kita mulai dengan prinsip-prinsip ciptaan

Berkenandengan substansi-substansi jasmani, Aquinas mengambil sikap berdasarkan common sense (akal sehat) dengan mengatakan bahwa ada multiplasitas substansi. Pengetahuan yang dicapai oleh budi tergantung kepada pengalaman inderawi, dan objek konkret pertama yang diketahui budi adalah benda-benda materiil. Budi masuk ke dalam objek-objek inderawi tersebut

Kesimpulan saya: Filsafat dan Teologi mempunyai perbedaan yang terletak pada kenyataannya. jika Teolog menerima prinsip dari perwahyuan dan menganggap objek pengetahuannya sebagai diwahyukan sedangkan Filsuf mendapatkan prinsip dari akal dan menganggap objek pengetahuannya sebagai hasil perwahyuan. 


Sumber: Dikutip dari Filsafat Patristik, halaman 39-40


3 komentar:

  1. blog kamu bagus, saya suka karena terdapat kesimpulan yang mudah untuk dipahami

    BalasHapus
  2. Artikel ini bagus! Awalnya saya kurang paham tapi karena ada kesimpulan yang melengkapi saya jadi mengerti. Nilainya 88.

    BalasHapus
  3. "jiwa dipersatukan sedemikian erat dengan Allah oleh cinta, sehingga cahaya yang dicurahkan ke dalam jiwa membutakannya. Tinggal satu tingkat yang lebih tinggi, yang hanya diberikan hidup kekal, yaitu melihat Allah di surga." kutipan tersebut telah membantu saya dalam memahami tujuan jiwa diciptakan. Artikel kamu bagus dan menarik. Nilai : 88

    BalasHapus